Setelah Parade KBN di Solo, Kini Sekelompok Perempuan Berkebaya Ramaikan CFD Jakarta

25
Para Perempuan Berkebaya tampak berswa foto di Bunderan Hotel Indonesia pada gelaran car free day di Jakarta, Minggu (19/6) Foto/FB @Lana.
Jakpus (JBN) – Ini baru keren, sejumlah pecinta Kebaya, hadir di Kawasan Car Free Day (CFD) dengan menggunakan Kebaya. Pemandangan langka, sejumlah perempuan asyik menikmati udara pagi Jakarta sambil menunjukkan aneka ragam Kebaya, warisan leluhur wanita Indonesia.
Jalan santai dengan menggunakan Kebaya, dimulai dari depan FX Sudirman dan berakhir di Bundaharan Hotel Indonesia, Jl.Thamrin. Acara bertajuk ‘Perempuan Berkebaya Indonesia’ diselenggarakan dalam rangka pelestarian kebaya sebagai warisan leluhur. Tampak ibu-ibu dan perempuan milenial terlihat bersemangat untuk mengikuti kegiatan ini.
Lana T.Koentjoro Ketua Tim Nasional Pengajuan Penetapan Hari Kebaya (kiri) dan Arinta SP. Lenggono aktibis perempuan LIRA. (Foto/Frans)
“Saya bangga dan mengapresiasi kegiatan CFD Berkebaya yang dilakukan oleh teman-teman,” ujar Lana T Koentjoro Ketua Tim Nasional Pengajuan Penetapan Hari Kebaya.
Lana yang juga Ketua Umum Perempuan Indonesia Maju (PIM) ini mengatakan, semakin banyak kegiatan berkebaya yang dilakukan oleh berbagai komunitas, semakin baik. Sehingga upaya melestarikan Kebaya terus terjaga. Ini juga sekaligus sebagai bentuk dukungan pada Tim Nasional Pengajuan Hari Kebaya dan Kebaya Menuju Unesco yang sedang kami siapkan.
Lana mengungkapkan, setelah Parade Kebaya Nusantara di Solo, saat ini 150 komunitas dari berbagai daerah sudah mendukung pengajuan Hari Kebaya. Dukungan terbaru datang dari Samarinda, Kalimantan Timur.
“Kami akan melakukan safari dan kegiatan ke berbagai kota baik di Jawa dan luar Jawa untuk mengumpulkan dukungan,” pungkas Lana.
Para Perempuan Berkebaya tampak berswa foto di Bunderan Hotel Indonesia pada gelaran car free day di Jakarta, Minggu (19/6) Foto/FB @Lana.
Dalam kesempatan yang sama, aktivis perempuan Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Arinta SP.Lenggono, mengatakan, gerakan positif ini patut mendapat dukungan, karena bukan hanya melestarikan budaya saja, namun bisa menunjukkan identitas dan jati diri perempuan Indonesia yang bisa dilihat oleh dunia internasional.
Menurutnya, selain membawa dampak positif dalam sosial budaya, gerakan berkebaya ini juga bisa menggerakan perekonomian rakyat, seiring maraknya keberadaan para pengrajin dan pembuat kebaya, serta munculnya pusat-pusat kerajinan.

Sebagai negara yang terdiri dari ribuan pulau, tentu Indonesia memiliki banyak budaya yang harus dilestarikan agar tak lekang oleh waktu. Salah satunya adalah kebaya, pakaian tradisional perempuan Indonesia, lanjut wanita yang juga menjabat Bedahara Umum Keluarga Besar Putra-Putri POLRI (KBPP Polri).

Untuk menggaungkan kampanye agar perempuan milenial atau kaum milenial tertarik menggunakan Kabaya, Arinta menyarankan agar Tim Nasional Pengajuan Penetapan Hari Kebaya bisa mengajak aktivis social media untuk ikut mengkampanyekan gerakan berkebaya secara masif. (Frans/Ren)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here