Diduga Kurangnya Sosialisasi, Pembangunan IPAL di Desa Sukamakmur Dikeluhkan Warga

19
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang ada di Desa Sukamakmur Kabupaten Bogor (Foto/Rendy)
Kab Bogor|JBN – Pembangunan Instalasi Pengolahan Limbah (IPAL) di Desa Sukamakmur, Kabupaten Bogor patut diduga tanpa ada sosialisasi terhadap warga. Hal itu dibenarkan oleh Dede, Sekertaris Desa (Sekdes) saat dikonfirmasi di kantornya, Senin (1/11)

Dede mengatakan, Pembangunan IPAL hibah dari Dinas PUPR itu dimaksudkan untuk dapat mengurangi dampak dari limbah air hasil sisa pemakaian dari para warga, sejenis air bekas cucian, mandi, hingga limbah tinja. Dia menyebut, Pihak PUPR hanya memberitahukan kalau lokasi yang berada persis disebelah kantor dan masih di halaman desa tersebut cocok sebagai lahan dibangunnya ipal.

“Ipal setahu kami itu hibah dari Dinas PUPR Kab Bogor, setelah mereka mensurvei, lalu mereka mengatakan ke kami kalau lokasi di sebelah kantor desa cocok untuk tempat ipal,” ucapnya.
Ia juga menjelaskan, Pihak PUPR pernah mengatakan kalau akan ada dampak bau yang ditimbulkan dari Ipal untuk jangka waktu 3 bulan kedepan. Dan tanpa mendapat penjelasan atau arahan untuk dapat minimal meminimalisir dampak bau dari ipal tersebut.

“Pernah saya diberitahu oleh PUPR, akan ada bau selama 3 bulan dari ipal itu, namun kesananya tidak akan lagi,” ujarnya.

Melihat lokasi pembangunan ipal (Iplt) hibah dari Dinas PUPR dengan Harga Borongan sebesar Rp. 413.882.000,- yang dikerjakan CV. Tirta Rekan Nusa dan sebagai konsultan Pengawas, PT. Rudian Hanskoji Konsultan yang letaknya tidak terlalu jauh dari pemukiman warga, awak media coba mendatangi salah satu warga guna bertanya terkait instalasi Ipal Komunal tersebut.
“Baunya sempat menyengat sekali pak, sampai anak saya mengeluhkan kehilangan selera nafsu makan akibat bau dari ipal itu. Sekarang agak lumayan tidak terlalu menyengat karena sudah ditambah pipa sama suami saya atas inisiatif sendiri,” ungkap salah satu warga yang dekat dengan lokasi ipal.
Mendengar sampai ada tindakan inisiatif dari warga menambahkan pipa untuk menjauhkan buangan aliran yang telah diproses ipal, awak media kembali bertanya, apakah pihak desa mengetahui inisiatif tersebut. Warga memastikan, pihak desa mengetahui, karena sebelum ditambahkan pipa, warga tersebut sudah beberapa kali mengeluhkan hal itu.
“Memang sih akhirnya biaya untuk beli pipa akhirnya diganti,” katanya.
Humas LSM Matahari, Zeffery amat menyayangkan terjadinya dampak timbulan bau dari ipal tersebut. LSM yang berfokus terhadap Lingkungan Hidup (LH) itu menjelaskan, “Sanitasi mempunyai hubungan erat dengan kesehatan. Sarana dan prasarana sanitasi yang tidak cukup dapat berpengaruh pada penyebaran penyakit, dengan demikian penting untuk menjaga lingkungan agar tetap sehat dan bersih, salah satunya melalui
peningkatan sanitasi lingkungan yang sejalan dengan Tujuan
Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals, yaitu
menjaga kualitas lingkungan hidup,” ujarnya.
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di desa lanjutnya, mau itu IPAL Komunal maupun IPLT harusnya dibangun untuk menjaga kelestarian lingkungan serta turut menunjang peraturan Perundang-undangan Pemerintah mengenai Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.
“Sudah seharusnya pihak PUPR selaku penghibah ipal dapat memikirkan dan meminimalkan dampak negatif dan meningkatkan dampak positifnya,” pungkasnya.
Hingga berita ini ditayangkan, awak media masih mencoba mendapat keterangan dari pihak terkait. (Rendy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

18 − 7 =