Revolusi Industri 4.0, Prof Ali Zum : Saatnya Pemerintah Berikan Dukungan Kepada Putera Terbaik

3
Prof Dr Ir Ali Zum Mashar, penemu Padi trisakti (Foto/Rendy)
Serang – Indonesia memiliki identitas sebagai negara agraris, dengan kekayaan sumber daya alam melimpah, sudah seharusnya negara lebih mendorong percepatan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan sektor pertanian.
Demi tercapainya pemenuhan konsumsi dan stok pangan tersebut, negara dalam hal ini pemerintah, harusnya dapat mendukung para putera-puteri bangsa yang memiliki potensi dan ahli menciptakan inovasi dalam bidang pertanian dengan tujuan selain memastikan stok pangan yang memadai, dapat juga memenuhi kesejahteraan masyarakat, khususnya petani yang masih belum sejahtera banyak tinggal di Desa.
Hal itu disampaikan oleh salah satu putera terbaik bangsa, Prof Dr. Ir. Ali Zum Mashar, MSi., dalam acara tukar pikiran bersama disaat kunjungan DPP MIO Indonesia ke kediamannya di Kabupaten Serang, Banten pada Rabu (3/11)
Dalam perbincangan dengan para jajaran DPP MIO, Profesor yang juga menjadi Pembina PW MIO Banten itu, mengakui tuntutan mengenai Revolusi industri 4.0 yang didepan mata dengan mengutamakan produktivitas, kecepatan dan akurasi pada sasaran.
“Karena perkembangan tersebut, saya berinovasi menciptakan varietas Padi-padi Trisakti yang berdiri genjah (cepat di panen umur 60-75 hari sejak ditanam) serta kedelai unggulan yang kualitasnya lebih besar dan mematahkan produktivitas hasil kedelai umumnya,” terangnya.
“Bahkan penemuan terbarunya telah berhasil membuat Jambu biji (guava) tanpa biji 100% dan rasa renyahnya mirip buah peer impor,” tambahnya.
Dengan hasil riset dan penelitiannya, ia mengakui mengakui varietas Padi Trisakti dan Kedelainya dapat menjadi keunggulan dan lebih memihak kepada rakyat, petani khususnya.
“Kenapa disebut Padi Trisakti, karena produksi lebih unggul daripada benih hibrida yang umum digunakan saat ini, bahkan Padi Trisakti umurnya pendek, dibawah rata-rata, termasuk perbandingannya dengan padi nasional,” beber Profesor Ali Zum Mashar.
Dalam sesi obrolan santai di pendopo miliknya, ia menyayangkan, ketika tuntutan perkembangan revolusi industri 4.0 berpeluang terpenuhi dan bahkan dapat melebihi dari ekspektasi, namun miris menurutnya, begitu sulit untuk mendapat perijinan birokrasi dan pengakuan terhadap karya inovasinya dari pemerintah.
“Berpihak kepada siapa pemerintah dalam hal pertanian ? kemudian birokrasinya harus bagaimana agar lebih memudahkan,” ujar Penemu Mikroba Google teknologi Bioperforasi dan padi “Trisakti” padi super genjah (lekas berbuah-KBBI) 75 hari produksi tinggi itu,” geramnya.
Dengan disimak secara serius oleh para DPP MIO yang hadir, Prof Ali menjelaskan, disaat negara memiliki anak bangsa yang dengan kompetensi, inovasi dan keahlian nya mengangkat potensi sumber daya alam, dalam hal ini pengembangan bibit unggul yang revolusioner, harusnya pemerintah mendukung dan memberi kemudahan dalam proses birokrasi perizinan.
“Padahal jaman Presiden SBY, waktu itu (Tahun 2010-red) telah menghimbau Menteri Transmigrasi dan Tenaga Kerja serta Menteri Pertanian untuk dikembangkan secara nasional. Faktanya, saya hanya diajak rapat 3 kali waktu itu oleh Pejabat pejabat Eselon I dan ujungnya tetap, wassalam,” ungkap Prof Ali.
Penyandang Gelar S2 Bioteknologi dan S3 program studi Pengelolaan Ekonomi Sumber Daya Lingkungan, Institut Pertanian Bogor (IPB) itu juga telah berupaya maksimal demi mendapat pengakuan dan kemudahan dalam perijinan birokrasi hingga pemerintahan saat ini.
“Pihak pemkab melalui Bupati Tatu Chasanah syukur alhamdulillah mendukung dan mensuport karena beliau telah datang serta melihat langsung ke setiap lahan yang saya kelola, sekarang tinggal dari pemerintah pusat saja yang begitu rumitnya mendapat sebuah pengakun,” keluhnya.
Ia mengakui, atas nama pemberdayaan masyarakat khususnya petani yang memanfaatkan bibit unggulannya lah menjadi alasan utama dari perjuangannya mendapat sebuah pengakuan dan dapatnya perijinan setiap hasil karya ilmiahnya untuk dapat diedarkan ke masyarkata luas, serta dapat bersaing dalam market nasional maupun internasional.
“Segala varietas yang saya ciptakan dipastikan telah melalui hasil uji lapangan dan tes lab secara otentik, bahkan saya siap kembali di tes oleh lab baik itu LIPI maupun Lab yang ada di Litbang Kementerian terkait guna memastikan kelayakannya. Saya berharap pemerintah pusat khususnya, untuk dapat memberi waktu dan perhatiannya untuk ikut memikirkan hasil riset dan penelitian yang dihadirkan oleh anak bangsa,” pungkasnya.
Masih di tempat yang sama, Dewan Pembina DPP MIO-IND Anto Suroto.SH.SE.MM yang juga sebagai Ketua Umum Asosiasi Perdagangan Industri Kreatif Indonesia (APIKI) memberikan pandangan terkait kendala yang disampaikan Prof Ali Zum Mashar.

Menurut Anto Suroto yang juga pelaku usaha industri kreatif produk export sungguh menyanyangkan jika hasil penelitian dan kreativitas juga inovasi yang sepatutnya harus di proteksi di setiap daerah baik legal aspek yang harus di lengkapi agar hasil penelitian dan menjadikan sebuah produk unggulan yang bisa teruji dan terukur.

“Dengan memberikan proteksi dan mengembangkan hasil penelitian maka akan menjadikan sebuah produksi dan industri untuk berpeluang membuka lapangan kerja baru, agar Indonesia masa kini dan masa depan ketahanan pangan dunia,” terang penggagas GERAM 7P itu.
Dengan Hasil pertemuan dan pembicaran dengan Prof. Dr. Ir. Ali Zum Mashar, Msi., sebagai Dewan Pembima DPW MIO-IND BANTEN dan Dewan Pembina DPP MIO-IND Anto Suroto.SH.SE.MM dan Ketua Umum Mio-Ind sangat mengharapkan Indonesia sebagai negara Agraris sudah sepatutnya memberikan perhatian penuh kepada peneliti-peneliti yang di lakukan secara mandiri.
“Harus di dorong dan di bantu sebagai stake holder kebijakan dalam pengembangan daya saing di sektor ketahanan pangan dan industri kreatif termasuk parawisata yang tak bisa terlepas sebagai daya tarik nya di setiap daerah,” Pungkasnya. (Rendy)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

ten + 7 =